Cemburu Buta dalam Cinta: Luka Batin yang Bisa Disembuhkan


CERITA  jatimindo.biz.id - Cemburu dalam hubungan cinta adalah hal wajar, namun ketika berubah menjadi cemburu buta, ia menjelma racun yang merusak kepercayaan dan akal sehat. Cemburu buta muncul bukan karena fakta, melainkan karena prasangka, ketakutan berlebihan, dan dorongan ingin menguasai pasangan. Dampaknya bukan sekadar pertengkaran, tetapi juga tekanan psikologis, pembatasan kebebasan, hingga kekerasan verbal maupun emosional yang perlahan mengikis kualitas hubungan.

Akar cemburu buta umumnya berasal dari luka batin yang belum selesai: trauma masa lalu, pengalaman dikhianati, rasa tidak aman, atau harga diri yang rapuh. Seseorang yang tidak berdamai dengan dirinya cenderung memproyeksikan ketakutannya kepada pasangan. Akibatnya, komunikasi dipenuhi tuduhan, pengawasan berlebihan, dan kebutuhan konstan akan validasi. Di titik ini, cinta kehilangan esensinya sebagai ruang aman dan tumbuh bersama.

Kabar baiknya, cemburu buta bisa diobati. Langkah awal adalah kesadaran diri—mengakui bahwa kecemburuan tersebut bermasalah dan berakar dari dalam diri, bukan semata kesalahan pasangan. Terapi atau konseling dapat membantu menelusuri trauma, membangun rasa aman, serta melatih regulasi emosi. Di sisi lain, komunikasi jujur dan terstruktur dengan pasangan tanpa menyalahkan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan dan menyepakati batasan yang sehat.

Selain itu, memperkuat harga diri melalui pengembangan diri, menjaga jejaring sosial, dan membangun kepercayaan berbasis fakta sangat penting. Mengelola pikiran irasional dengan teknik kognitif, membatasi perilaku kontrol, serta memberi ruang pada pasangan adalah praktik nyata penyembuhan. Cinta yang dewasa tidak diukur dari seberapa ketat menggenggam, melainkan seberapa berani melepaskan rasa takut karena hanya dengan itu, cemburu buta berubah menjadi kepedulian yang sehat.

Penulis : Ihwan